SOLO, KOMPAS.TV- Direktur Eksekutif Democracy and Electoral  Empowerment Partnership atau DEEP Neni Nur Hayati mengatakan, organisasi Muhammadiyah jangan mau jadi objek harus jadi subjek. Hal itu dikatakan dalam konteks politik jelang Pemilu 2024 mendatang. 

Katanya itu, Muhammadiyah perlu tetap konsisten menjaga moral bangsa melalui peran-peran kenegarawanan.

“Karena itu, pimpinan Muhammadiyah harus mendorong kader-kader terbaik nya yang memiliki kapasitas mumpuni untuk terlibat aktif dalam politik. Sebab ini adalah bagian dari misi amar ma’ruf nahyi munkar, ” kata Neni saat berbicara dalam diskusi pada sela-sela Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (19/11/2022).

Dengan mendorong kader-kader Muhammadiyah, yang memiliki passion di dunia politik, ungkap Neni, diharapkan menjadi penyeimbang dari gerakan-gerakan negatif yang selalu menyembul pada tahun politik.

Sementara menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Diyah Puspitarini, posisi Muhammadiyah yang nonpartisan tak berarti harus menjauh dari politik.https://www.youtube.com/embed/VWw_VFIQ5rs?rel=0

“Perlu ada penyesuaian yang adaptif dan solutif dengan kondisi yang ada untuk mempersiapkan kader-kader terbaik Muhammadiyah menjadi kader bangsa,” sambung Diyah dalam acara yang sama.

Menurut Diyah, dalam soal politik, setiap kader Muhammadiyah harus berani mengerek kader di bawahnya. Hal itu demi memastikan adanya keberlangsungan kader-kader yang akan terjun ke dunia politik sehingga berkesinambungan.

Apalagi, dalam kontestasi politik 2024 mendatang, politik uang masih akan terjadi. 

Dengan masuk ke bidang legislatif dan eksekutif, Muhammadiyah turut menjawab masalah-masalah kekinian seperti resesi global, krisis pangan  dan ikhtiar menjawab ekonomi rakyat.