Oleh .Nasarudin Sili Luli

KPU telah menggelar rapat pleno terbuka pengundian nomor urut calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) di Pilpres 2024. Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mendapat nomor urut 1, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka mendapat nomor urut 2, dan Ganjar Pranowo-Mahfud Md mendapat nomor urut 3.

Indonesia akan  melangsungkan pesta demokrasi besar, untuk memilih presiden wakil presiden  Indonesia pada 14 februari mendatang, para calon presiden suda mengambil nomor urut artinya kontestasi pilpres secra resmi suda dimulai ,tentu patut berbangga karena pelaksanaan kegiatan kontestasi  lima tahuan ini, kita berharap pesta besar itu berjalan lancar, aman, dan damai.

Yang terpenting dari semua itu hasilnya hampir pasti sudah terjawab. Di beberapa daerah terjadi persaingan ketat di antara kandidat. Di beberapa daerah lain ada kandidat yang mudah memenangi pemilu. Tulisan ini tak lagi membahas siapa dan bagaimana bisa memenangi pemilu.

Tidak juga bermaksud membicarakan bagaimana seorang kandidat memenanginya. Atau sebaliknya, bagaimana seorang kandidat terkalahkan. Diakui atau tidak, dalam kontestasi politik kerap kali terjadi ketidakjujuran, atau perilaku yang sejatinya melanggar etika dan moral berpolitik.

Perilaku Politisi

 Bahkan, tidak jarang secara tidak malu-malu aturan-aturan main dilanggar seenak perut. Egoisme dan rakus kekuasaan menjadikan sebagian melakukan apa saja, menghalalkan segala cara untuk memenangi pertarungan itu.

Jual beli jabatan dengan perjanjian kontrak anatar pejabat yang memberi jabatan dan menerima jabatan dengan syarat harus memenangkan salah satu calon presiden dan parpol tertentu menjadi hal yang akhir-akhir ini lumrah dilakukan,Money politics menjadi salah satu wajah politik korup (corrupt politic) di negara ini kian sulit dihindarakan.

 Di sisi lain, rakyat masih banyak yang membutuhkan karena faktor kemiskinan, baik karena keadaan maupun memang karena mentalitasnya. Artinya, kemiskinan yang terjadi di masyarakat dapat dibagi dua kategori. Ada kemiskinan yang memang riil adanya. Ada pula kemiskinan yang disebabkan mentalitas dan karakter, merasa miskin dan tidak pernah terpuaskan.

Kedua keadaan di atas rentan menjadi sasaran empuk para politikus yang rakus dan egois. Akibatnya, biaya politik (political cost) menjadi beban yang dahsyat. Pelaku politik dari sejak langkah awal sudah terbebani untuk mendapatkan dana yang tidak sedikit. Intinya demokrasi bukan lagi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, melainkan menjadi ajang transaksi kepentingan berbagai pihak.

Partai politik, kandidat, maupun konstituen (pemilih) semuanya tidak peduli dengan kepentingan umum (public interest), tapi kepentingan pribadi dan/atau golongan. Akibat dari praktik politik seperti ini, rakyat menjadi apatis. Tidak peduli sesungguhnya dengan tujuan demokrasi, bahkan pemilu itu sendiri.

 Bagi sebagian, pemilu sebelumnya  tidak lebih dari seremonial rutin lima tahunan. Bagi sebagian yang lain, pemilu adalah musim panen lima tahunan. Menang atau kalah Sejatinya dalam sebuah kontestasi akan ada yang menang dan kalah. Itu sudah sunnatullah, dan terkadang di luar dari nalar biasa manusia.

 Saya masih teringat ketika Donald Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat menggantikan Barack Obama. Sebelum hasil quick count diumumkan, hampir semua pihak, baik ahli maupun komentator politik memperkirakan jika esok harinya Amerika akan dipimpin seorang wanita pertama kali dalam sejarahnya.

Kenyataannya di luar dugaan. Mr DT memenangi kontestasi politik Amerika dan berhasil menduduki jabatan kepresidenan di negara adidaya itu.

Pertanyaan yang kemudian timbul ialah bagaimana menyikapi hasil proses politik itu? Apakah perlu bergembira dan berpesta pora jika menang?

Nilai Politik

 Atau sebaliknya, perlukah ditangisi, bahkan marah dan putus asa jika kalah? Berikut beberapa hal yang mungkin bisa menjadi pengingat di saat-saat seperti ini. Pertama, kita yakini bahwa langit dan bumi serta segala isinya berada di bawah kendali Yang Satu. Dialah yang memberi dan mengambil segala sesuatunya karena Dialah yang memiliki segalanya. Termasuk di dalamnya kekuasaan, tak lain hanya pinjaman dari-Nya. “Katakan (wahai Muhammad): Wahai Engkau yang memiliki kekuasaan.

Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki. Dan Engkau mengambil kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki. Dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu segala kebaikan. Sungguh Engkau berkuasa atas segala.”(Alquran) Kedua, hidup secara keseluruhan adalah ujian.

Karenanya, nilai sesungguhnya tidak pada menang atau kalah dalam kontestasi itu. Nilai dari itu justru ada pada bagaimana menyikapinya. Menang hanya akan bernilai (berarti) jika disikapi dengan tawadu dan rasa syukur. Kalah akan menjadi nilai (value) jika disikapi dengan sabar, introspeksi, dan menerima keputusan (takdir).

 Ketiga, etika Islam mengajarkan bahwa kemenangan jangan dirayakan secara berlebihan. Bahkan, dianjurkan untuk beristigfar dan memohon petunjuk dan pertolongan. Sebaliknya, kekalahan tidak disesali dan dijadikan keputusasaan karena sesuatu yang telah nyata di hadapan mata itu hanya Allah yang tahu hakikatnya. “Boleh jadi kamu suka sesuatu, tapi sesungguhnya tidak baik bagimu.

Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, tapi sesungguhnya baik bagi kamu.” (Alquran) Jadi lahan amal Keempat, dalam pandangan Islam, kemenangan tidak selalu dilihat pada akhirnya, tapi pada niat dan prosesnya. Jika niatnya benar, lalu diproses secara benar pula dan penuh tanggung jawab, apa pun hasil akhirnya itulah kemenangan.

Keputusan Allah pada akhirnya itu yang terbaik dan sekaligus kemenangan. “Dan bekerjalah. Sungguh Allah akan melihat karyamu, juga rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.” (Alquran) Kelima, kekuasaan politik hanya satu dan secuil dari lahan amal. Ketika lahan ini lepas, yakinlah di hadapan kita terbentang jutaan lahan amal lainnya.

Karenanya, dunia selalu terbuka lebar untuk melangkah. Cita juang hanya terbatasi oleh ketinggian langit. Maka jangan merasa terhalangi untuk berbuat baik karena kekalahan dalam kontestasi politik.

Sebaliknya sadari bahwa dengan belum berhasilnya usaha di jalan ini, itulah cara Allah untuk membuka jalan-jalan keberhasilan lainnya.

 Seribu jalan menuju pengabdian demi agama, bangsa, dan negara. Keenam, sebagai negara demokrasi, proses menuju kepada kedewasaan demokrasi terus terbenahi. Kedewasaan dalam berdemokrasi banyak ditentukan kedewasaan dalam menyikapi hasil konstestasi politik itu sendiri.

Intinya siap menang, tapi juga siap menerima kekalahan. Ketujuh, hendaknya semua politikus harus memilki common ground (pijakan yang sama) dalam berpolitik, dan secara kebangsaan pijakan yang sama ialah mewujudkan daerah/negara yang damai, adil, dan sejahtera. Dalam bahasa Alqurannya ialah baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafuur.

Demikian sebagai peringatan bagi kita semua, khususnya untuk mereka yang terlibat langsung di kontestasi pilpres  kali ini, baik untuk para kandidat, tim relawan, maupun para pendukungnya. Sekaligus peringatan untuk yang menang maupun yang kalah. Akhirnya, hanya kepada Allah kita berserah diri dengan menjadikan kontestasi pilpres 2024 ini sebagai ajang untuk merebut keberkahan dari Allah SWT. Amin

Penulis Adalah Direktur Eksekutif  NSL Consultant Political & Starategic Campaign