Oleh: Nasarudin Sili Luli

Direktur Eksekutif Political Consultant and Strategic Campaign

Hari-hari ini seakan kita disuguhi masalah integritas para tokoh, khususnya tokoh politik atau politisi. Sederhananya, integritas adalah satunya perkataan dan perbuatan.

Sudah biasa kita saksikan para politisi keluar masuk dari parpol satu ke parpol lain. Sikap dan perilaku mereka juga bisa berubah dari pengkritik satu tokoh menjadi pemuji sang tokoh. Padahal, integritas sesungguhnya bersandar pada kebenaran terkait dengan etika dan moral. Artinya, seorang berintegritas tinggi adalah orang yang juga menjunjung tinggi etika dan moral serta bukan bersandar pada kepentingan kekuasaan.

Sering kali mereka berlindung pada jargon bahwa dalam politik tak ada kawan abadi, yang ada kepentingan. Padahal, di era digital ini mudah ditemukan rekam jejak digital yang bersangkutan, yang terang benderang dapat dilihat ulang. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Seorang berintegritas tinggi adalah orang yang juga menjunjung tinggi etika dan moral serta bukan bersandar pada kepentingan kekuasaan.

Realitas ini diperparah dengan kenyataan bahwa parpol umumnya tidak memiliki ideologi politik yang kuat, tetapi berdasarkan pada pragmatisme. Sementara itu, dalam pemilihan legislatif pun ternyata banyak warga yang memilih tidak didasarkan rekam jejak dan gagasan, tetapi popularitas, kedekatan, dan lain-lain.

Meski demikian, tentu kita harus tetap optimistis karena tidak semua politisi berintegritas rendah, tidak sedikit yang tetap memiliki integritas tinggi, beretika, dan bermoral kuat. Karena itu, saya berharap para politisi berintegritas ini terus berjuang tegak lurus pada kebenaran dan memberi jalan terang di tengah kesuraman situasi politik saat ini. Semoga